Review Film - A Whisker Away (2020)

by - June 20, 2020


Kucing adalah satu jenis binatang yang gemesin. Tingkahnya yang lucu bikin kucing menjadi salah satu hewan peliharaan paling favorit dan paling dipuja-puja saat ini. Sering kali aku nemuin di Twitter kalo banyak owner kucing nge-tweet "wah enak kali ya jadi kucing, bisa makan, tidur, dielus, males-malesan, nggak perlu mikir apa-apa". Pernah mikir kayak gitu juga? Nah ada satu film animasi asal Jepang yang bisa menggambarkan pikiran liarmu itu, A Whisker Away.

Anime ini rilis di Netflix dan disutradarai oleh Junichi Sato dan Tomotaka Shibayama. Naskahnya ditulis oleh Mari Okada dan punya runtime 104 menit. Sedangkan untuk pengisi suaranya ada Mirai Shida, Natsuki Hanae, Susumu Chiba, Ayako Kawasumi, dan Eri Kitamura.

A Whisker Away mengisahkan tentang seorang cewek SMP bernama Miyo (Mirai Shida) yang bucin banget sama temen sekelasnya, Hinode (Natsuki Hanae). Miyo disekolah dipanggil "Muge" atau kalo dipanjangin artinya Miss Ultra Gaga and Enigmatic karena sifatnya yang hiperaktif dan ceria. Nah Miyo ini terus-terusan deketin Hinode tanpa ada feedback dari Hinode. Akhirnya di satu malam Miyo nemu rahasia buat ngubah dirinya jadi kucing. Nah barulah setelah itu setiap malam Miyo selalu berkunjung ke rumah Hinode dengan wujud kucingnya sebagai bentuk ekspresi rasa cintanya.


Apa yang ditawarkan oleh A Whisker Away bukanlah di kualitas animasinya, tapi lebih ke drama dan pengembangan karakternya. Kayak film-film anime pada umumnya yang menyampaikan nilai-nilai kehidupan tanpa terkesan menggurui. Kalo dicermati, memang di awal rasanya kayak "ini mau nyampein apa sih sebenernya?" tapi begitu sampe tengah durasi keatas, film ini jadi jelas arahnya kemana. Cara penyampaian anime yang "baru kebuka di belakang" ini jadi bikin penonton bener-bener menikmati prosesnya.

Proses yang aku maksud disini termasuk pengembangan karakternya. Biasanya anime memang punya istilah sebab-akibat (atau sebaliknya) yang selalu ditonjolkan. Misalnya karakter Miyo yang terlihat selalu ceria pasti punya sebab yang kuat mengapa dia berbuat demikian. Bahkan sampai rasa sukanya pada Hinode juga punya motif yang cukup kuat, sehingga penonton nggak semerta-merta akan men-judge tindakan beberapa karakter di film ini.



Kalo mau dikupas lagi nih, A Whisker Away itu sebenernya sedih banget lho. Banyak kisah-kisah tragis dan kelam yang ingin disampaikan buat menyadarkan penonton. Mulai dari kasih sayang orang tua, bullying, sampai rasa tak percaya diri. Namun balik lagi, anime tuh selalu punya caranya sendiri dalam menyampaikan banyak hal kompleks tersebut. Dipadukan dengan unsur fantasy, drama kehidupan tersebut seakan dibikin fun aja, tapi nilainya tetep tersampaikan dengan baik.

Aku juga suka penggambaran dunia anak SMP di film ini. Emosinya yang masih labil dan pikirannya yang kompleks tergambarkan dengan sangat baik disini. Seperti contohnya detil kecil yang diperlihatkan oleh Miyo saat mencoba masakan ibu tirinya. Meski dia bilang enak, namun nadanya terkesan nggak ikhlas seakan-akan apa yang ada di pikirannya itu "ini enak, tapi aku nggak seharusnya menikmati masakan ibu tiriku". Penggambaran karakter Miyo disini juga sangat baik sebagai pribadi yang mencoba kuat dan menanggung semuanya sendiri.


Aku cuma sayang aja sih karena konfliknya baru muncul di babak kedua, jadi berasa lama aja gitu filmnya. Selain itu hal yang cukup disayangkan lagi adalah entah mengapa di awal-awal aku ngerasa ini bukan cerita untuk anak-anak ya? I mean, pacaran di waktu SMP mungkin adalah hal yang umum terjadi, namun tindakan Miyo yang seakan memuja-muja Hinode secara berlebihan bisa jadi kasih contoh kurang bagus buat anak-anak seusia SD/SMP. Meskipun begitu, setelah masuk separuh durasi dan tahu alasan Miyo, film ini jadi cukup make sense.

A Whisker Away adalah satu anime yang pasti bisa mencuri perhatianmu karena menawarkan kucing lucu sebagai salah satu daya tariknya. Namun apa yang perlu digaris bawahi dari film ini adalah karakter Miyo. Miyo mengajarkan padaku dan pada penonton, bahwa mencintai diri sendiri itu lebih penting daripada harus menjadi orang lain, bersedia rela membuka hati, dan lebih peka untuk menyadari keberadaan orang-orang tersayang di dekat kita.

Ada di NETFLIX