Review Film - Last Night In Soho (2021)

by - November 06, 2021


Kalo temen-temen nonton Last Night In Soho dan terpikat sama aura Anya Taylor-Joy (ya siapa sih yang nggak terpikat??), aku justru mengalihkan pandangan dan suka sama Thomasin McKenzie. Semenjak nonton dia di Leave No Trace (2018) silam, aku resmi jadi penggemar beratnya Thomasin. Apalagi sama suaranya yang lucu, sebuah kesenangan tersendiri bisa denger suara dan muka cantiknya di bioskop dengan kualitas audio-visual yang paripurna.
 
Oke, cukup bucinnya, aku termasuk penonton yang menyukai tiap menitnya Last Night In Soho. Mulai dari adegan pertama aku langsung diajak kenalan sama Ellie (Thomasin McKenzie), seorang gadis yang suka banget sama karya-karya seni tahun 60an dengan impian besarnya menjadi seorang perancang busana. Ellie lalu menempuh perjuangan berat menggapai cita-citanya setelah dia tau dapet beasiswa buat kuliah di London College of Fashion. Perjuangan beratnya dimulai ketika ada sebuah momen titik balik (yang nggak bakalan aku sebutin) yang bikin Ellie jadi makin tenggelam dengan dunia 60an.



I really love every aspect from this movie. Mulai dari kompleksitas ceritanya, transisi antara masa kini ke tahun 60annya yang sangat mulus dan dihubungkan dengan cara yang tak terduga pula, musik dan visualnya yang tentunya bikin tergugah buat nonton di bioskop, sampe dua lead actress-nya yang tentu selepas ini bakalan jadi pujaan. Sebagai film dengan tajuk horor pun, Last Night In Soho tampil mencekam dan menyeramkan.
 
Naskahnya padet berisi. Ada banyak isu yang coba ditampilkan sama Last Night In Soho yang menjadikan dia punya cerita yang kompleks. Isu yang coba diangkat pun penting dan nggak sembarangan. Seksisme, problematika dunia hiburan, sampe perundungan. Aku seneng gimana semuanya bisa saling berkaitan dan ngasih teror ke Ellie, karakter utamanya, secara runtut dan saling berdampak. Jadi lama-lama intensitasnya meningkat dan bahkan sempet bikin lengah soalnya di 1/3 awal itu aku nggak begitu yakin kalo ini film horor.
 


Jelas yang patut diapresiasi adalah Edgar Wright berhasil ngasih aku pengalaman nonton film horor yang ajaib. Tampilannya mewah, entah itu ketika ada di timeline sekarang atau pas mundur jauh ke tahun 60an. Pemilihan lagu-lagunya juga keren, dan Anya-Thomasin jadi duo menakjubkan yang saling bersinergi. Anya yang punya aura memikat nggak bikin penampilan Thomasin surut. Thomasin yang polos bener-bener kontras disandingin sama Anya. Pas pokoknya. Bagian favorit emang ada di adegan "dance" itu sih, terbaik!
 
Cuma emang aku agak menyayangkan bagian final-act nya. Mungkin agak terlalu berlebihan dan honestly, ada bagian yang lebih baik nggak ada sekalian aja. Tapi aku nggakpapa, aku seneng bisa nonton film yang dari segi tampilan dan ceritanya bagus. Bahkan tadi sempet ada sekitar 4-5 orang di studio yang kasih applause setelah film selese.
 
Ada di BIOSKOP