Sebagai film adaptasi dari game tarung legendaris, Mortal Kombat emang nggak mencoba tampil mengkhianati sumbernya. Masih dengan tingkat kebrutalan dan juga karakter-karakter yang sama, nampaknya Mortal Kombat terlalu berfokus buat jadikan ini sebuah film fan service semata ketimbang berusaha buat ngebangun dunianya dulu.
Selain menjadi pembuka di Venice International Film Festival tahun 2020 lalu, hal yang bikin Night in Paradise teramat menggiurkan buat ditonton adalah sosok Park Hoon-jung. Memang aku nggak begitu kenal sama filmografi beliau, namun salah satu screenplay garapan Park Hoon-jung adalah I Saw the Devil (2010) yang sadis dan bisa memuaskan hasrat para penggila darah. Tentu nggak sulit buat menaruh ekspektasi besar pada film gangster yang ia sutradarai kali ini.
I really really like this one. Khususnya buat episode pembuka dan episode kedua yang punya treatment berbeda dari gaya MCU kebanyakan. Ngeliatnya tuh unik dan refreshing. Memang bukan tipikalnya Marvel (in a good way), tapi justru aku suka banget malahan. Gaya sitkomnya emang ngasih nuansa baru buat yang udah ngikutin perjalanan MCU sejauh ini.
Nah ini salah satu tontonan enteng dan menghibur. Suka sama
petualangannya Raya, tapi lebih suka lagi karena nilai-nilai persatuan
yang dibawa. Disney memang selalu berhasil meramu cerita sederhana jadi
satu tontonan yang mampu memantik emosi penonton.
Kayaknya ini adalah pertemuan yang paling didambakan oleh para
penggila monster, kaiju, titan, atau apa aja deh sebutannya. Godzilla
ketemu Kong. Pertarungan antara dua titan alpha yang sama-sama punya pendirian teguh yang bisa digambarkan dengan kalimat "i'm bow to no one". Godzilla vs Kong
nggak pengen membohongi publik dengan judulnya yang diniatkan buat
embel-embel semata, tapi memang begitu adanya, judulnya jujur. Sebuah
pertarungan spektakuler antara dua monster terkuat.
Ini. Keren. Banget.
Tentu setelah versi ini dirilis, pasti banyak perbincangan dan juga perbandingan antara Zack Snyder's Justice League dengan Justice League (2017)
punya Joss Whedon. Emang aku nggak tau waralaba konflik di dalem DC tuh
kayak apa, tapi dari sudut pandang penonton awam, aku menilai kalo
versi Snyder ini jauh lebih bagus, jauh lebih kompleks, dan jauh lebih make sense ketimbang versinya Whedon yang rilis di tahun 2017 lalu.
Apa aja yang bikin keren? Banyak.
Dari
durasinya yang kurang lebih 4 jam, aku ngeliat kalo film ini jadi
tampil lebih leluasa. Ceritanya bisa kebangun dengan baik sehingga
sebab-akibatnya pun makin jelas jadinya. Karena durasinya yang panjang
juga, Zack bisa memperlakukan hero-heronya dengan layak, khususnya buat
Flash sama Cyborg yang (akhirnya) punya backstory sendiri. Meski singkat tapi berdampak signifikan ke keseluruhan cerita.
Nggak
cuma sampe situ aja perlakuan Zack ke hero-heronya. Kalo di versi
"ramah" milik Whedon aku ngeliat karakternya pada lucu cenderung oon,
tapi di versi yang ini aku ngeliat semua pada serius. Aku suka DC yang
kayak gini, nuansanya dark, penuh kedewasaan, punya ciri khas sendiri. Jokes-jokes
tetep ada tapi tepat guna. Flash yang karakternya kekanak-kanakan tetep
kerasa sangar karena bawaanya ngeliat Justice League tuh kayak
dewa-dewi yang lagi turun ke Bumi. Aku dibuat yakin kalo mereka hebat
semua dan itu berkat sentuhan dari Zack Snyder. Bikin sudut pandang yang
berbeda tentang superhero.
Scoring-nya ajib banget! Aku tuh paling peka sama scoring music
kalo lagi nonton dan film ini terasa gahar banget. Musik tarungnya
Wonder Woman tuh salah satu contoh yang bagus banget dan bikin yakin
kalo dia dari bangsa Amazon. Tapi juaranya tetep Flash pas beraksi di final-act itu sih. Musik + scene-nya bikin merinding dan emang kudu rewatch khusus buat part itu. Momen favoritku di film ini. Jos gandos pokoknya.
Villainnya,
si Steppenwolf, juga dapet perlakuan terhormat dari Zack. Jadi makin
sangar. Lebih intimidatif dan lancip-lancip gitu. Keliatan kuat susah
dikalahin. Aku juga seneng karena film ini lebih padet aja gitu, lebih
masuk akal ketimbang versi sebelumnya dan berkat beberapa tambahan scene juga rasanya kayak jadi angin segar buat DC dan kelanjutan universe miliknya.
Tapi emang sih slowmonya agak berlebihan jadi rasanya malah bikin slowpace. Diawal-awal agak lambat tapi begitu masuk tengah kebelakang dan sampe final-act jadi lebih enak pace-nya. Ya ini sih worth the wait, ekspektasi terpenuhi, harusnya tuh emang kayak gini dan aku seneng enjoy nontonnya. 4 jam yang nggak dibuang sia-sia sama Zack Snyder.
"Dad, whatever happens I want you to know... Your kid was one of them dad, one of the best of the best". Dari seorang Barry Allen, The Flash, yang sukses bikin aku terharu ðŸ˜
Ada di HBO GO/HBO MAX
Berkaca dari serial game, memang salah satu game bela diri dengan karakter beragam ini udah punya banyak banget penggemar termasuk aku. Keras dan brutal, terutama pada eksekusi finishing yang dimiliki oleh tiap karakternya membuat game Mortal Kombat jadi sangat menarik untuk dimainkan. Nah siapa sangka, ternyata film animasi pegangan Warner Bros. ini mampu mencuri perhatian seperti game-nya.
Aksi bertensi tinggi, sinematografi keren, dan Chris Hemsworth! Apa lagi sih yang dibutuhkan oleh sebuah film aksi untuk menarik minat penontonnya? Extraction yang punya tiga elemen kuat di atas (ya, termasuk satu tokoh utama yang ganteng) tentu sudah cukup memenuhi kriteria. Setidaknya sebagai satu tontonan di rumah yang menghibur.














