• Home
  • Reviews
    • Movies
    • TV Series
  • My Top List
  • Find Me!
    • Twitter
    • Instagram
    • Letterboxd
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MOVIECSTASY


Aku bukan perempuan yang bisa merasakan rasanya melahirkan, menyusui, dan merawat anak dengan cinta kasih sepanjang masa. Tapi apa yang aku lihat dari The Lost Daughter ini adalah sebuah kecamuk perasaan yang ada dalam diri Leda, seorang ibu yang kesulitan untuk menentukan sendiri mana yang paling baik buat dia.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kalo memang dua orang sudah takdirnya bertemu, itu pasti selalu adaaa aja caranya entah itu mulai dari yang sederhana sampai cara yang ribet. Pasti ya bakal ketemu. Tinggal gimana dua orang itu mau memperjuangkan. Sama juga, entah mau berusaha berdoa, berusaha kontak, atau apapun itu sesuai kapasitas masing-masing.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
 
Wah ini salah satu film yang adem dan menenangkan buat ditonton. Beda sama I Care A Lot (2021) kemaren yang isinya karakter unlikeable semua, kalo Nomadland isinya karakter-karakter baik yang dipertemukan dengan beragam cara lewat gaya hidup berpindah atau nomaden.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kemaren abis nonton Fear of Rain (2021) yang nyeritain tentang seorang remaja putri pengidap skizofrenia dalam balutan horor, nah sekarang ada lagi nih film remaja skizofrenia juga tapi bedanya dikemas dalam bentuk romance-drama berjudul Words on Bathroom Walls (2021). Anehnya, somehow aku ngerasa kalo film romansa remaja ini terasa lebih "horor" ketimbang yang murni horor.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Aku mungkin masuk tim yang suka sama Malcolm & Marie. Mungkin karena lebih relate, mungkin karena pernah ngalamin problem yang mirip sama mereka berdua. Jadi meskipun Malcolm & Marie boleh dibilang tampil repetitif dan banyak dialog, aku tetep salah satu orang yang suka sama filmnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
 
Nonton I Care A Lot ini pasti bakal kebawa hawa-hawa yang sama kayak nonton Gone Girl (2014). Sama-sama Rosamund Pike yang jadi karakter utamanya dan karena sebuah kebetulan pula karakternya sama menyebalkan pas ditonton.
 
Marla Grayson (Rosamund Pike) adalah cewek muda cantik dan keliatan sukses berkat bisnisnya mengelola semacam rumah panti jompo. Tapi bukan Rosamund Pike rasanya kalo "mengelola panti jompo" versinya bakal terdengar biasa aja, karena ternyata Marla ini melakukan operasi tipu-tipu di dalamnya. Dibantu sama ceweknya, Fran (Eiza Gonzalez), mereka berdua berusaha melorotin harta para lansia yang masuk ke panti jomponya.
 

 
Sebenernya film ini tuh tontonan yang seru dan menyenangkan, meskipun emang isinya banyak banget karakter jahatnya. Tapi seru aja pas ditonton, bikin gregetan dan sebel-sebel sendiri ngeliat Marla-Fran melakukan operasinya tipu-tipunya. Aku seneng sama caranya J. Blakeson buat ngebangun ceritanya. Modus operasinya Marla dikemas dengan stylish, keliatan ruwet namun gampang dipahami.
 
I Care A Lot seakan jadi panggung tunggalnya Rosamund Pike. Nggak jauh beda sama karakter yang dia mainkan di Gone Girl, Marla di sini terasa sama menyebalkannya, sama njengkelinnya dan dengan mudah bakal nggak disukai sama penonton. Tapi susah buat menampik performa apik Pike yang meyakinkan penonton buat nggak suka sama dirinya. Mata birunya indah namun sorotnya menipu. Ekspresi dan gayanya yang tenang bikin penonton boleh jadi terbelah ke dua kubu. Aku termasuk yang suka sama karakter nyebelin kayak gini. And Eiza Gonzalez? Wearing a black suit with a VANS? I'm in!!
 

 
Nah tapi memang tontonan kayak gini kalo dibawa serius malah nggak bakal menikmati jadinya. Karakternya nyebelin semua, motifnya si Marla minta ditampol, dan ceritanya pun melibatkan lansia yang bikin makin gemes aja. Jadi nggak semua orang bisa menikmati. Termasuk bagian ending-nya yang aku kurang suka karena nggak meninggalkan kesan mendalam. Aftertaste-nya kurang maksimal karena pemilihan ending yang ini.
 
Kalo pengen menikmati I Care A Lot, emang kudu memposisikan diri buat nyari hiburan dengan nonton karakter-karakter nyebelin begini. Walaupun emang kudu diakui susah, tapi aku cukup terhibur nonton ini dan aku puas banget sama aktingnya Rosamund Pike.
 
Ada di NETFLIX
 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Aku termasuk orang yang suka nonton hampir semua genre film. Namun apabila disuruh milih, aku lebih doyan sama film horror, animasi, drama hangat, atau drama dengan tema depresif dan bikin nggak nyaman. Di tahun 2020 ini aku nemu satu film dengan tema yang cukup tabu yaitu aborsi dengan nuansa yang depresif, Never Rarely Sometimes Always. Meski punya tema yang tabu namun berkat eksekusinya yang sabar, Never Rarely Sometimes Always jadi satu film tentang kemandirian perempuan dengan bumbu 
road trip yang melelahkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Rasanya udah lama banget Unbelievable duduk manis dipojokan watchlist, nunggu buat ditonton. Alasannya sederhana, aku nggak terlalu tertarik sama serial/film yang punya ranah based on true story. Kenapa nggak tertarik? Sederhana juga, karena aku ngerasa pengetahuanku tentang berbagai kejadian besar di seluruh penjuru dunia ini sangatlah sempit. Sehingga asumsiku terhadap film-film based on true story adalah "pasti filmnya bakalan terasa panjang nih". Namun sore ini Unbelievable menepis semua keraguanku, dan secara personal aku langsung menjadikan serial ini salah satu favoritku.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Datang tanpa ekspektasi besar, tapi pulang bawa kesenangan. Itu yang aku rasain setelah nonton film ini. Dengan membawa kisah cinta segitiga yang unik dan mampu menyetir ekspektasi, The Half of It ternyata menjelma menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan. Aku yang butuh hiburan ini ternyata sangat menyukai tiap menitnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dengan nama Damien Chazelle terpampang jelas di beberapa materi promosinya, The Eddy tentu sangat menggiurkan dan menarik perhatian. Terlebih lagi plotnya yang menawarkan musik jazz sebagai pengiring utama dan juga kelihaian Chazelle dalam mengeksekusi film-film bertemakan jazz udah sangat cukup bikin penasaran. Ditambah lagi ini adalah sebuah serial TV, yang otomatis jumlah menitnya lebih banyak. Tentu aku menaruh harapan tinggi pada The Eddy.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Read me!

Review Film - Last Night In Soho (2021)

Popular Posts

  • Review Film - The Lodge (2019)
  • Review Film - A Whisker Away (2020)
  • Review Film - White Snake (2019)
  • Review Film - Extraction (2020)
  • Review Film - Beasts Clawing at Straws (2020)

Author

Pizza and burger, it would be nice with a soda. I write some movie reviews here. Homenum Revelio! 

Created with by ThemeXpose . Distributed by Weblyb