• Home
  • Reviews
    • Movies
    • TV Series
  • My Top List
  • Find Me!
    • Twitter
    • Instagram
    • Letterboxd
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MOVIECSTASY


Anj, salah ini mah nonton film beginian buat nutup tahun 2022 emang salaaahh! Salah satu film yang sukses membuat rasa kesal memuncak plus rasa nggak nyaman selama 97 menit durasinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Horor tentang rasa kehilangan itu emang selalu punya nuansa yang berbeda dan terasa personal bagi beberapa penontonnya. Apalagi seseorang yang meninggalkan buat selama-lamanya ternyata nggak bener-bener kita kenal betul, tentu rasanya bakal makin menghantui hidup kita. The Night House coba mengeksplorasi tema kehilangan lewat horor yang kental dengan nuansa ketidakpastian.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Mantep banget sih Possessor ini. Konsep yang diusung tuh keren dan unik, nyeritain Tasya Vos sebagai seorang pembunuh bayaran yang kerjanya via implan otak. Aku nggak mau ngomongin panjang lebar karena kayaknya itu aja udah spoiler, tapi hal itulah yang bikin Possessor tampil dengan pesona unik tanpa melupakan keseramannya sebagai film horor.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Mulai dari adegan pembukanya, penonton langsung dikasih tau kalo si protagonis adalah pengidap Skizofrenia. Tentu aku tertarik dong, karena aku dulu juga sering berinteraksi langsung sama temen-temen Skizofrenia juga. Apalagi ada embel-embel horor-psikologis dan juga Madison Iseman, aku memutuskan buat langsung nonton Fear of Rain di malam yang lagi rain pula. Tapi ternyata aku cukup dikecewain sama film garapannya Castille Landon ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
 
Nonton I Care A Lot ini pasti bakal kebawa hawa-hawa yang sama kayak nonton Gone Girl (2014). Sama-sama Rosamund Pike yang jadi karakter utamanya dan karena sebuah kebetulan pula karakternya sama menyebalkan pas ditonton.
 
Marla Grayson (Rosamund Pike) adalah cewek muda cantik dan keliatan sukses berkat bisnisnya mengelola semacam rumah panti jompo. Tapi bukan Rosamund Pike rasanya kalo "mengelola panti jompo" versinya bakal terdengar biasa aja, karena ternyata Marla ini melakukan operasi tipu-tipu di dalamnya. Dibantu sama ceweknya, Fran (Eiza Gonzalez), mereka berdua berusaha melorotin harta para lansia yang masuk ke panti jomponya.
 

 
Sebenernya film ini tuh tontonan yang seru dan menyenangkan, meskipun emang isinya banyak banget karakter jahatnya. Tapi seru aja pas ditonton, bikin gregetan dan sebel-sebel sendiri ngeliat Marla-Fran melakukan operasinya tipu-tipunya. Aku seneng sama caranya J. Blakeson buat ngebangun ceritanya. Modus operasinya Marla dikemas dengan stylish, keliatan ruwet namun gampang dipahami.
 
I Care A Lot seakan jadi panggung tunggalnya Rosamund Pike. Nggak jauh beda sama karakter yang dia mainkan di Gone Girl, Marla di sini terasa sama menyebalkannya, sama njengkelinnya dan dengan mudah bakal nggak disukai sama penonton. Tapi susah buat menampik performa apik Pike yang meyakinkan penonton buat nggak suka sama dirinya. Mata birunya indah namun sorotnya menipu. Ekspresi dan gayanya yang tenang bikin penonton boleh jadi terbelah ke dua kubu. Aku termasuk yang suka sama karakter nyebelin kayak gini. And Eiza Gonzalez? Wearing a black suit with a VANS? I'm in!!
 

 
Nah tapi memang tontonan kayak gini kalo dibawa serius malah nggak bakal menikmati jadinya. Karakternya nyebelin semua, motifnya si Marla minta ditampol, dan ceritanya pun melibatkan lansia yang bikin makin gemes aja. Jadi nggak semua orang bisa menikmati. Termasuk bagian ending-nya yang aku kurang suka karena nggak meninggalkan kesan mendalam. Aftertaste-nya kurang maksimal karena pemilihan ending yang ini.
 
Kalo pengen menikmati I Care A Lot, emang kudu memposisikan diri buat nyari hiburan dengan nonton karakter-karakter nyebelin begini. Walaupun emang kudu diakui susah, tapi aku cukup terhibur nonton ini dan aku puas banget sama aktingnya Rosamund Pike.
 
Ada di NETFLIX
 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Apa yang bakal kamu lakuin kalo tiba-tiba nemuin duit bernilai milyaran di dalem sebuah tas bermerk Louis Vuitton? Mau diambil uangnya? Atau mau ngambil tasnya aja nih? Walaupun punya tema yang klise soal kejar-kejaran harta, namun rasanya Beasts Clawing at Straws malah mempermainkan kita di dalam keklisean itu sehingga ia tampil meyakinkan sebagai satu sajian yang sangat menghibur.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kabur dari penjara. Sebuah tema yang terdengar familiar dan nggak terlalu unik untuk diangkat jadi sebuah film. Escape From Pretoria adalah film yang mencoba mengangkat tema itu dengan harapan akan "disegarkan kembali" dari film lawas dengan tema serupa yang udah cukup banyak. Ternyata film ini cukup memenuhi ekspektasiku sebagai satu sajian yang banyak mengumbar ketegangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Gimana jadinya kalo di usia remaja kalian udah sering pake senapan dan berpetualang jauh kedalam hutan belantara yang sunyi dan mengancam? Lalu ditambah beban untuk membawa dan menjaga seorang sandera? Tentu terdengar sangat berat dan bayangan akan langsung tertuju pada ngerinya masa-masa perang. Kali ini aku dipertemukan dengan Monos, kelompok remaja badass yang tanpa ragu mampu menarik pelatuk ketika diperlukan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Drama Korea emang lagi naik daun di tahun ini. Banyak rilisan serial TV seperti Itaewon Class dan The World of the Married yang mampu mendulang sukses dan bisa memikat hati para penikmat film. Ada satu lagi serial yang mencuri perhatianku karena premisnya yang unik, yaitu Extracurricular. Serial yang berputar-putar pada sisi kelam remaja sekolahan ini tanpa diduga tampil solid sebagai satu sajian yang nggak terduga pula.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Berkaca dari serial game, memang salah satu game bela diri dengan karakter beragam ini udah punya banyak banget penggemar termasuk aku. Keras dan brutal, terutama pada eksekusi finishing yang dimiliki oleh tiap karakternya membuat game Mortal Kombat jadi sangat menarik untuk dimainkan. Nah siapa sangka, ternyata film animasi pegangan Warner Bros. ini mampu mencuri perhatian seperti game-nya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bukan tipe horror yang mengandalkan jumpscare sebagai media buat menakut-nakuti. Bukan pula tipikal horror tradisional berhantu yang mengandalkan kehadiran entitas gaib sebagai satu cara untuk membuat bulu kuduk merinding. Namun The Lodge hadir dengan caranya sendiri yang pelan namun pasti, mampu memberikan kejutan dan menyerang psikismu secara perlahan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Read me!

Review Film - Last Night In Soho (2021)

Popular Posts

  • Review Film - The Lodge (2019)
  • Review Film - A Whisker Away (2020)
  • Review Film - White Snake (2019)
  • Review Film - Extraction (2020)
  • Review Film - Beasts Clawing at Straws (2020)

Author

Pizza and burger, it would be nice with a soda. I write some movie reviews here. Homenum Revelio! 

Created with by ThemeXpose . Distributed by Weblyb